TOPIK : KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA
Ketahanan
pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya.
Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak
berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan. Ketahanan
pangan merupakan ukuran kelentingan terhadap gangguan di masa depan atau
ketiadaan suplai pangan penting akibat berbagai faktor seperti kekeringan,
gangguan perkapalan, kelangkaan bahan bakar, ketidak stabilan ekonomi,
peperangan, dan sebagainya. Penilaian ketahanan pangan dibagi menjadi
keswadayaan atau keswasembadaan perorangan (self-sufficiency) dan
ketergantungan eksternal yang membagi serangkaian faktor risiko. Meski berbagai
negara sangat menginginkan keswadayaan secara perorangan untuk menghindari
risiko kegagalan transportasi, namun hal ini sulit dicapai di negara maju
karena profesi masyarakat yang sudah sangat beragam dan tingginya biaya
produksi bahan pangan jika tidak diindustrialisasikan. Kebalikannya,
keswadayaan perorangan yang tinggi tanpa perekonomian yang memadai akan membuat
suatu negara memiliki kerawanan produksi.
Krisis Pangan, Warga Bima Konsumsi
Umbi Beracun
Liputan6.com,
Bima - Krisis pangan ternyata tak hanya dialami 4 dusun di Desa Karampi, tetapi
juga dialami 3 desa tetangga lainnya, yakni Desa Wadu Ruka, Sarae Ruma dan Pusu
Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Masing-masing
desa itu memiliki 2 dusun dan semuanya terletak di seberang laut teluk
Waworada.
Penyebab
krisis pangan hampir sama, yakni karena gagal panen akibat kemarau panjang.
Sekitar 3.000 warga yang mendiami masing-masing desa terpaksa mengganti makanan
pokok beras dengan umbian lede (gadung). Kondisi itu sudah berlangsung selama 3
bulan terakhir.
Untuk
mendapatkan umbian gadung tidaklah mudah. Warga harus bersusah payah menempuh
perjalanan puluhan kilometer di atas gunung untuk mencarinya. Menurut warga,
gadung bukanlah tanaman budidaya tetapi tumbuh liar di atas gunung. Tanaman
jenis umbi itu juga tidak tumbuh disembarang tempat, melainkan di lokasi yang
terjal.
Setiap hari
warga 4 desa harus menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk mencari gadung.
Mereka juga harus rela mendaki gunung yang terjal jika ingin asap dapur tetap
mengepul. Namun rasa lelah itu tak terpikirkan karena pencarian Gadung
dilakukan secara berkelompok.
"Semua
gadung yang diperoleh itu akan dikumpulkan lagi kemudian diolah bersama,"
kata Subhan, warga Dusun Nanga Ni’u, Desa Karampi kepada Liputan6.com.
Setelah
gadung diperoleh, jelas Subhan, warga tidak boleh mengonsumsinya secara
langsung karena umbian itu mengandung racun. Gadung harus diolah melalui
beberapa tahapan seperti dikupas kemudian diiris kecil-kecil hingga menyerupai
keripik, kemudian direndam dengan air laut hingga 4 jam agar kandungan racunnya
hilang.
Makan Gadung
karena Terpaksa
Menurut
Kepala Desa Karampi, Drs. Rifdun H. Hasan, tak jarang warga mengalami keracunan
karena langsung mengonsumsi gadung atau tidak melaui proses pengolahan yang
baik. Kata dia, setelah direndam air laut gadung harus dicuci lagi dengan air
tawar supaya tidak asin. Proses selanjutnya harus dijemur lagi selama 2 hingga
3 hari baru bisa dimasak dan dikonsumsi.
"Meski
sudah terbiasa makan gadung, warga tetap ada yang keracunan karena tidak
mengolahnya dengan baik. Ya kita tidak punya pilihan karena memang tidak ada
beras untuk dimakan," ujar Rifdun.
Rifdun
mengaku, warga memakan Gadung sejak mulai masuk musim kemarau. Lahan yang
kering menyebabkan hampir semua hasil pertanian gagal panen. Stok beras yang
disimpan hanya cukup untuk beberapa minggu awal musim kemarau.
"Kita
harus menempuh perjalanan 16 kilometer untuk mendapatkan gadung di atas gunung.
Ini kita lakukan setiap hari, karena jika tidak begitu mau makan apa
kita," imbuh Aminah, warga Dusun Soro Bali yang kemudian diiyakan warga
lainnya.
Ketahanan pangan di Indonesia terbukti
masih lemah dengan adanya bukti bahwa masih banyak terjadi krisis pangan dan
banyak juga masyarakat yang nekad makan makanan yang beracun yang tidak layak
makan akibat kelaparan. Namun mereka terpaksa memakannya karena mereka butuh
asupan energy untuk dapat mencari nafkah demi menghidupi keluarganya agar dapat
bertahan hidup.
Daftar pustaka :
Pasaribu
Rowland Bismark Fernando. 2012.
Bahan Ajar
Perekonomian Indonesia.
Fakultas
Ekonomi. Universitas Gunadarma,
Kenari
http://news.liputan6.com/read/2117956/krisis-pangan-warga-bima-konsumsi-umbi-beracun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar