Senin, 22 Juni 2015

KETAHANAN PANGAN MENURUN



TOPIK : KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan. Ketahanan pangan merupakan ukuran kelentingan terhadap gangguan di masa depan atau ketiadaan suplai pangan penting akibat berbagai faktor seperti kekeringan, gangguan perkapalan, kelangkaan bahan bakar, ketidak stabilan ekonomi, peperangan, dan sebagainya. Penilaian ketahanan pangan dibagi menjadi keswadayaan atau keswasembadaan perorangan (self-sufficiency) dan ketergantungan eksternal yang membagi serangkaian faktor risiko. Meski berbagai negara sangat menginginkan keswadayaan secara perorangan untuk menghindari risiko kegagalan transportasi, namun hal ini sulit dicapai di negara maju karena profesi masyarakat yang sudah sangat beragam dan tingginya biaya produksi bahan pangan jika tidak diindustrialisasikan. Kebalikannya, keswadayaan perorangan yang tinggi tanpa perekonomian yang memadai akan membuat suatu negara memiliki kerawanan produksi.

Krisis Pangan, Warga Bima Konsumsi Umbi Beracun

Liputan6.com, Bima - Krisis pangan ternyata tak hanya dialami 4 dusun di Desa Karampi, tetapi juga dialami 3 desa tetangga lainnya, yakni Desa Wadu Ruka, Sarae Ruma dan Pusu Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Masing-masing desa itu memiliki 2 dusun dan semuanya terletak di seberang laut teluk Waworada.

Penyebab krisis pangan hampir sama, yakni karena gagal panen akibat kemarau panjang. Sekitar 3.000 warga yang mendiami masing-masing desa terpaksa mengganti makanan pokok beras dengan umbian lede (gadung). Kondisi itu sudah berlangsung selama 3 bulan terakhir.

Untuk mendapatkan umbian gadung tidaklah mudah. Warga harus bersusah payah menempuh perjalanan puluhan kilometer di atas gunung untuk mencarinya. Menurut warga, gadung bukanlah tanaman budidaya tetapi tumbuh liar di atas gunung. Tanaman jenis umbi itu juga tidak tumbuh disembarang tempat, melainkan di lokasi yang terjal.

Setiap hari warga 4 desa harus menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk mencari gadung. Mereka juga harus rela mendaki gunung yang terjal jika ingin asap dapur tetap mengepul. Namun rasa lelah itu tak terpikirkan karena pencarian Gadung dilakukan secara berkelompok.

"Semua gadung yang diperoleh itu akan dikumpulkan lagi kemudian diolah bersama," kata Subhan, warga Dusun Nanga Ni’u, Desa Karampi kepada Liputan6.com.

Setelah gadung diperoleh, jelas Subhan, warga tidak boleh mengonsumsinya secara langsung karena umbian itu mengandung racun. Gadung harus diolah melalui beberapa tahapan seperti dikupas kemudian diiris kecil-kecil hingga menyerupai keripik, kemudian direndam dengan air laut hingga 4 jam agar kandungan racunnya hilang.

Makan Gadung karena Terpaksa
Menurut Kepala Desa Karampi, Drs. Rifdun H. Hasan, tak jarang warga mengalami keracunan karena langsung mengonsumsi gadung atau tidak melaui proses pengolahan yang baik. Kata dia, setelah direndam air laut gadung harus dicuci lagi dengan air tawar supaya tidak asin. Proses selanjutnya harus dijemur lagi selama 2 hingga 3 hari baru bisa dimasak dan dikonsumsi.

"Meski sudah terbiasa makan gadung, warga tetap ada yang keracunan karena tidak mengolahnya dengan baik. Ya kita tidak punya pilihan karena memang tidak ada beras untuk dimakan," ujar Rifdun.

Rifdun mengaku, warga memakan Gadung sejak mulai masuk musim kemarau. Lahan yang kering menyebabkan hampir semua hasil pertanian gagal panen. Stok beras yang disimpan hanya cukup untuk beberapa minggu awal musim kemarau.

"Kita harus menempuh perjalanan 16 kilometer untuk mendapatkan gadung di atas gunung. Ini kita lakukan setiap hari, karena jika tidak begitu mau makan apa kita," imbuh Aminah, warga Dusun Soro Bali yang kemudian diiyakan warga lainnya.



         Ketahanan pangan di Indonesia terbukti masih lemah dengan adanya bukti bahwa masih banyak terjadi krisis pangan dan banyak juga masyarakat yang nekad makan makanan yang beracun yang tidak layak makan akibat kelaparan. Namun mereka terpaksa memakannya karena mereka butuh asupan energy untuk dapat mencari nafkah demi menghidupi keluarganya agar dapat bertahan hidup.

Daftar pustaka :
Pasaribu Rowland Bismark Fernando. 2012.
Bahan Ajar Perekonomian Indonesia.
Fakultas Ekonomi. Universitas Gunadarma,
Kenari

http://news.liputan6.com/read/2117956/krisis-pangan-warga-bima-konsumsi-umbi-beracun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar