Struktur
produksi adalah struktur yang menjelaskan tentang produksi produksi barang yang
ada di Indonesia. Struktur produksi di Indonesia masih kurang memadahi karena
produksi di Indonesia masih sangat rendah dan tidak bisa buat Negara maju dalam
system produksi.
TEMPO.CO, Jakarta - Satuan Kerja Khusus
Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat bahwa lifting minyak saat ini hanya 762
ribu barel per hari (bph). Angka ini jauh di bawah target yang dipatok dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar 825 ribu
bph.
"Yang saya tahu, hari ini angkanya seperti itu. Saya tidak ingat rata-ratanya sejak awal tahun lalu," ujar Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa, 24 Maret 2015.
Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja mengatakan lifting di bawah target ini dipicu penurunan produksi di beberapa sumur eksploitasi (natural decline). Selain itu, ada beberapa kontraktor kontrak kerja sama yang menahan produksi maksimal sementara lantaran harga minyak dunia.
Menurut Wiratmadja, kondisi lifting di bawah target seperti ini memang kerap terjadi pada kuartal I. Sebaliknya, produksi diprediksi akan kembali melimpah pada kuartal II.
Wiratmadja mencontohkan produksi minyak di blok Cepu yang saat ini produksinya hanya 35 ribu bph. Pada masa puncak produksi bulan Oktober, produksi blok Cepu diperkirakan bakal melonjak hingga 165 ribu bph. "Semoga produksi nanti tidak ada gangguan," ujarnya.
"Yang saya tahu, hari ini angkanya seperti itu. Saya tidak ingat rata-ratanya sejak awal tahun lalu," ujar Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa, 24 Maret 2015.
Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja mengatakan lifting di bawah target ini dipicu penurunan produksi di beberapa sumur eksploitasi (natural decline). Selain itu, ada beberapa kontraktor kontrak kerja sama yang menahan produksi maksimal sementara lantaran harga minyak dunia.
Menurut Wiratmadja, kondisi lifting di bawah target seperti ini memang kerap terjadi pada kuartal I. Sebaliknya, produksi diprediksi akan kembali melimpah pada kuartal II.
Wiratmadja mencontohkan produksi minyak di blok Cepu yang saat ini produksinya hanya 35 ribu bph. Pada masa puncak produksi bulan Oktober, produksi blok Cepu diperkirakan bakal melonjak hingga 165 ribu bph. "Semoga produksi nanti tidak ada gangguan," ujarnya.
Produksi minyak di Indonesia
masih belum memenuhi target yang ditentukan. Apalagi produksi minyak di Indonesia
banyak dibutuhkan oleh masyarakat tetapi Indonesia masih belum bisa
meningkatkan kualitas produksi di Indonesia karena pemerintahpun juga tidak
pernah peduli akan apa yang terjadi di Indonesia
FAKULTASEKONOMI.UNIVERSITASGUNADARMA.KENARI
